English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Friday, 7 June 2013

Promises, Promises

Promises
Setelah bertahun-tahun lamanya, takdir mempertemukan kau dan aku lagi. Berdiri, berhadap-hadapan, dan sama-sama bingung memulai percakapan. Harusnya “Apa kabar?” dan “Aku selalu memikirkanmu” bisa dengan mudah meluncur dari bibir kita. Tapi, kau bergeming di tempatmu berdiri dan aku tak akan mengizinkan kau melihatku meneteskan air mata rindu. Aku menutup rapat-rapat hati dan menyembunyikan kuncinya sejauh mungkin darimu. Tak ingin kau menyentuhku semudah itu. Tak akan membiarkanmu memelukku seerat dulu.

Kulawan semua godaan yang menghampiriku dan ingin pergi jauh-jauh darimu... meskipun yang kulakukan justru berusaha menahanmu di sisiku lebih lama lagi. Kukatakan sudah berhenti memikirkanmu—tetapi aku sendiri ragu akan hal itu.

Aku benci tak jujur kepadamu. Namun, lebih khawatir kau akan membuatku jatuh cinta lagi untuk kedua kali.

Membuatku jatuh dan terluka lagi....


READ MORE - Promises, Promises

Cinta itu adalah

cinta


Cinta itu adalah
Ketika kita selalu mengingat seseorang,
tapi seseorang itu sama sekali tidak mengingat kita
Kita tetap selalu yakin atas cinta kita

Cinta itu adalah
Ketika kita selalu menjadi yang pertama peduli
selalu menjadi orang terakhir yang menyerah
Meski seseorang tersebut tidak tahu
Kita tetap selalu yakin atas cinta kita
Tidak berkurang walau sejengkal

Cinta itu adalah
ketika kita mengorbankan apapun milik kita
Tanpa berharap seseorang akan membalasnya
Kita tetap bersedia melakukannya
Tidak berkurang rasa cintanya

Cinta itu adalah
Ketika kita selalu lirih menyebut namanya dalam doa
Meski seseorang itu sedang tidur, jauh, bahkan tidak menyadarinya
Kita tetap berharap yang terbaik
Tidak berkurang keyakinan kita

Itulah cinta yang sejati
Tidak perlu jauh-jauh mencarinya
Cinta seperti ini ada pada Ibu kita
Baca ulang sajak ini dari awal, sambil membayangkan Ibu kita
semoga paham hakikat cinta yang baik.

Tere Liye

READ MORE - Cinta itu adalah

Thursday, 6 June 2013

A Letter that never sent

a letter
Hai. Hallo. Apa kabarnya kau ?? Lama sudah kita tidak bertemu. Semoga kau selalu baik-baik saja dan tidak pernah menjadi sia-sia. Surat kali ini sengaja aku tujukan untukmu, mungkin ini salah satu cara agar kita tetap "bisa" berhubungan meski tidak secara langsung.

Hey !! Kau yang disana. Kapan kita akan bertemu ?? aku rindu bercengkrama denganmu, berbicara tentang kisah yang tak ada habisnya. Alu rindu melihat senyummu, rindu suaramu, rindu gelakmu, aku rindu. sangat merindu... Aku rindu semua hal tentangmu. Meski tak pernah ku ungkapkan padamu, kali ini aku benar-benar rindu. ingin rasanya aku menghampiri dan melihat senyummu. Melihat ekspresi wajahmu, Saat kau tertawa, menangis, saat lelah, sedih, gembira atau apalah !!

Aku rindu saat-saat bersamamu. Saat kita habiskan malam bersama dengan segelas cappuccino, bercerita sekalipun tidak berkualitas. Atau sekedar duduk diam di sampingmu saja tanpa perlu berkata-kata, itu sudah cikup bagiku. Karena begitulah aku yang ingin selalu kau ada. Dan aku hanya ingin kau tau, sampai saat ini aku masih merindumu dalam diamku.

Andai saja kau tau itu ....


READ MORE - A Letter that never sent